Hitungan weton jodoh jawa untuk pernikahan berdasarkan primbon

Primbon digunakan masyarakat Jawa sebagai dasar penghitungan urusan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hitungan (petung) pernikahan menggunakan weton jodoh. Di Jawa, meskipun tidak semua keluarga memiliki kitab primbon, namun pada umumnya masih memiliki pola pikir dalam hubungannya dengan primbon, Hampir setiap saat orang Jawa memiliki perhelatan yang dihitung berdasarkan kitab primbon. Upacara daur hidup, mulai upacara kehamilan, kelahiran, pembatas kedewasaan, pernikahan, sampai upacara kematian dilaksanakan berdasarkan primbon.

Arti Primbon menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kitab yang berisikan ramalan (perhitungan hari baik, hari nahas, dan sebagainya); buku yang menghimpun berbagai pengetahuan kejawaan, berisi rumus ilmu gaib (rajah, mantra, doa, tafsir mimpi), sistem bilangan yang pelik untuk menghitung hari mujur untuk mengadakan selamatan, mendirikan rumah, memulai perjalanan dan mengurus segala macam kegiatan yang penting, baik bagi perorangan maupun masyarakat.

Baca: Mencari Hari Baik Ijab Kabul Pernikahan

Penghitungan weton jodoh untuk pernikahan, dalam kitab primbon disebut petung salaki rabi. Petung salaki rabi digunakan untuk meramal, menerawang rumah tangga calon pengantin laki-laki maupun calon pengantin perempuan nantinya. Biasanya perhitungan weton jodohnya hasilnya baik, maka perjodohan akan diteruskan sampai ke ajang pernikahan. Apabila hasil penghitungan weton jodohnya tidak baik, maka akan diadakan upacara atau ruwatan sebagai tolak balak, bahkan tak jarang yang membatalkan perjodohan dan mengganti mencari calon menantu yang lain yang sesuai dengan hasil petung.

Masyarakat Jawa mempunyai pedoman hidup yang bersumber dari gugon tuhon dan Serat yang dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam kehidupan berumah tangga. berupa petung salaki rabi yang berdasarkan weton, aksara atau nama, serta hari lahir calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan.

Dalam kehidupan berumah tangga, perjalanan berumah tangga mungkin akan mendapatkan rumah tangga yang harmonis, baik, lancar rejeki, sehat, mudah mendapatkan keturunan, dan terpandang di mata masyarakat. Sedangkan kemungkinan buruk yang terjadi adalah rumah tangga yang sering bertengkar, bercerai, sulit mendapatkan keturunan, sulit mendapatkan rejeki, sering terkena penyakit, bahkan kematian.

Pada masa sekarang, petung primbon dapat dijadikan sebagai bahan koreksi diri dan pengertian bahwa dalam sebuah pernikahan, maka akan ada saja permasalahan yang timbul. Hasil penghitungan primbon dianggap sebagai daur pernikahan ataupun sebuah perjalanan pernikahan yang mungkin saja terjadi dalam sebuah pernikahan. Pada makalah ini akan disajikan bagaimanakah daur yang mungkin terjadi dalam pernikahan, beserta bagaimana cara menanggulanginya berdasarkan primbon dan cara pandang masyarakat Jawa.

Jenis petungan salaki rabi dan hasilnya Penghitungan Weton Jodoh Jawa berkaitan dengan neptu pernikahan mempunyai banyak variasi. Penghitungan tersebut ada yang berdasarkan hari lahir calon pengantin, nama calon pengantin, juga yang berdasarkan pengitungan hari pasaran atau weton calon pengantin. Penghitungan neptu pernikahan berdasarkan weton dan nama calon pengantinpun dapat dibagi dengan angka 4, 5, 7, dan 9. Berikut akan dideskripsikan beberapa cara dan macam-macam penghitungan weton jodoh jawa untuk pernikahan:

Cara Pertama

Penghitungan pernikahan yang pertama adalah penghitungan pernikahan yang sering digunakan oleh masyarakat Jawa. Penghitungan ini berdasarkan penjumlahan weton calon pengantin. penghitungan berdasarkan weton mempunyai 3 variasi, yaitu penjumlahan weton dibagi 4, 7, dan 9.

Penjumlahan weton kedua calon pengantin dibagi 4. Wetone panganten lanang wadon, neptune dina lan pasaran digunggung, banjur kabage 4 (Noeradyo: 12. “weton pengantin laki-laki dan perempuan, neptu hari dan pasaran dijumlahkan, kemudian dibagi 4”. Sisa hasil penjumlahan akan menunjukkan makna pernikahan.

hitungan weton jodoh jawa untuk pernikahan

Artinya:

1. Gentho, larang anak, “orang jahat”, “susah mendapatkan momongan”. Gentho merupakan julukan bagi orang dengan perangai tidak baik, jahat. Hasil penghitungan dengan hasil gentho berarti sulit mendapatkan keturunan.

2. Gembili, sugih anak. Gembili merupakan “jenis umbi-umbian”. Pernikahan yang terhitung gembili berarti baik karena dikaruniai “banyak anak”.

3. Sri, sugih rejeki, “sejahtera”, “banyak rejeki”. Petung salaki rabi dengan hasil sri mendapatkan kelimpahan rejeki, hidupnya sejahtera.

4. Punggel, mati siji, “potong, putus, patah”, “salah satu meninggal”. Petung salaki rabi dengan hasil punggel akan mendapatkan musibah berupa kematian salah satu pasangan.

Cara Kedua

Weton kedua calon pengantin dijumlahkan, dibagi 10 atau 7. Wetone panganten lanang wadon Neptune kagunggung banjur kabage 10 utawa 7, turahe ora kena luwih saka 7. Manawa kabage 10 turahe luwih saka 7, iku banjur kabage 7, angka turahane nuduhake ketemuning petungan (Noeradyo: 12). “Weton pengantin lelaki dan perempuan neptunya dijumlahkan kemudian dibagi 10 atau 7, sisanya tidak boleh lebih dari 7. Jika dibagi 10 sisanya lebih dari 7, maka dibagi 7, angka sisanya menunjukkan makna hasil penghitungan”.

Artinya:

1. Wasesa negara, kamot, jembar budine, sugih pangapura, gedhe perbawane, “penguasa negara”.
Petung salaki rabi wasesa negara berarti “luas penalarannya, mudah memaafkan, luhur derajatnya”.

2. Tunggak semi, cepak rejekine, “batang pohon yang telah patah bersemi kembali”. Hasil hitungan tunggak semi bermakna “rejekinya dekat, mudah, dilancarkan”.

3. Satriya wibawa, oleh kamulyan lan kaluhuran, “ksatria besar”.
Dalam hidupnya, hasil petung satriya wibawa mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi.

4. Sumur sinaba, dadi pangungsening kapinteran.
Sumur merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Sumur merupakan sumber mata air di sekitar rumah, digunakan untuk keperluan sehari-hari. Sumur sinaba berarti sumur yang sering didatangi masyarakat karena limpahan airnya atau kemanfaatannya. Secara simbolis, sumur sinaba berarti pasangan pengantin tersebut bijaksana sehingga sering dijadikan tempat mencari jalan keluar dari permasalahan orang lain”.

5. Satriya wirang, nandhang dukacipta, kawirangan, “ksatria yang menanggung malu, mendapat malu”. Malu dalam dunia ksatria biasanya disebabkan oleh kekalahan yang dirasa tidak sepadan. Misalnya lawan sebenarnya kurang baik, namun tetap tidak bisa dikalahkan. Simbolisme satriya wirang dapat diartikan bahwa dalam kehidupan rumah tangga tersohor atau tinggi tingkat ekonominya, namun karena suatu hal mendapatkan aib.

6. Bumi kapetak, petengan aten ananging taberi ing gawe, kuat nandhang lara lapa, resikan, “bumi terkubur”. Bumi kapetak menyombulkan suatu keadaan yang tintrim, gelap. Makna dari bumi kapetak adalah hatinya selalu sedih tetapi rajin bekerja, kuat menanggung sakit.

7. Lebu katiup angin, nandhang papa cintraka, kabeh karepe ora dadi, kerep malih omah. “Debu tertiup angin”. Debu jika tertiup angin maka akan ikut kemanapun angin membawanya, dapat diartikan tidak mempunyai ketetapan. Debu tertiup angindalam hidupnya akan menanggung kesusahan, semua keinginan tidak tercapai, sering berpindah rumah.

Cara Ketiga

Pembagian weton dengan angka 9. Pembagian ini menggunakan penghitungan terpisah antara calon pengantin lelaki dengan calon pengantin perempuan. Wetone panganten lanang lan wadon, Neptune dina lan pasaran digunggung, banjur kabage 9, lanang turah pira, wadon turah pira (Noeradyo: 12). “Weton calon pengantin lelaki dna perempuan, neptunya hari dan pasaran dijumlahkan, kemudian dibagi 9, laki-laki sisa berapa, perempuan sisa berapa”.

Artinya:

1. 1 lan 1 becik kinasihan “baik, dikasihi”
2. 1 lan 2 becik “baik”
3. 1 lan 3 kuat, adoh rejekine “kuat, jauh dari rejeki”
4. 1 lan 4 akeh bilahine “banyak mendapat celaka”
5. 1 lan 5 pegat “bercerai”
6. 1 lan 6 adoh sandhang pangane “jauh dari rejeki”
7. 1 lan 7 sugih satru “banyak musuh”
8. 1 lan 8 kasurang-surang “sengsara hidupnya”
9. 1 lan 9 dadi pangauban “menjadi tempat berteduh/ berlindung”
10. 2 lan 2 slamet, akeh rejekine “selamat, banyak rejeki”
11. 2 lan 3 gelis mati siji “salah satu meninggal lebih dahulu”
12. 2 lan 4 akeh godhane “banyak godaan”
13. 2 lan 5 akeh bilahine “banyak mendapat celaka”
14. 2 lan 6 gellis sugih “cepat kaya”
15. 2 lan 7 anake akeh mati “keturunannya banyak yang meninggal”
16. 2 lan 8 cepak rejekine “dekat dengan rejeki”
17. 2 lan 9 mlarat “miskin”
18. 3 lan 3 mlarat “miskin”
19. 3 lan 4 akeh bilahine “banyak mendapat celaka”
20) 3 lan 5 gelis pegat “cepat pisah/ bercerai”
21. 3 lan 6 oleh nugraha “mendapat anugrah”
22. 3 lan 7 akeh bilahine “banyak mendapat celaka”
23. 3 lan 8 gelis mati siji “salah satu meninggal lebih dahulu”
24. 3 lan 9 sugih rejeki “banyak rejekinya”
25. 4 lan 4 kerep lara “sering sakit”
26. 4 lan 5 akeh rencanane “banyak rencana”
27. 4 lan 6 sugih rejeki “banyak rejekinya”
28. 4 lan 7 mlarat “miskin”
29. 4 lan 8 akeh pangkalan “banyak halangan”
30) 4 lan 9 kalah siji “kalah salah satu/ salah satu akan meninggal”
31. 5 lan 5 tulus begjane “selalu mendapatkan keberuntungan”
32. 5 lan 6 cepak rejekine “dekat dengan rejeki”
33. 5 lan 7 tulus sandhang pangane “mudah mencari rejeki halal”
34. 5 lan 8 akeh sambekalane “banyak halangan”
35. 5 lan 9 cepak sandhang pangane “dekat dengan rejeki”
36. 6 lan 6 gedhe bilahine “mudah celaka”
37. 6 lan 7 rukun “rukun”
38. 6 lan 8 sugih satru “banyak musuh”
39. 6 lan 9 kasurang-surang “sengsara hidupnya”
40. 7 lan 7 ingukum maring rabine “dihukum oleh suami/istrinya”
41. 7 lan 8 nemu bilahi saka awake dhewe “mednapat celaka karena diri sendiri”
42. 7 lan 9 tulus palakramane “langgeng pernikahanya”
43. 8 lan 8 kinasihan dening wong “banyak dikasihi orang lain”
44. 8 lan 9 akeh bilahine “banyak mendapat celaka”
45. 9 lan 9 giras rejekine “rejekinya lancar”